Sunday, October 21, 2012

Manfaat Jahe Putih

Manfaat Jahe Putih
Manfaat Jahe Putih . Jahe merupakan salah satu anggota kelompok suku temu-temuan. Bersama dengan Kencur (Kaemferia Galanga), Lengkuas (Languasa Galanga), Lempuyang Gajah (Zingiber Zerumbet), Lempuyang Pahit (Zingiber Littorale), Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza), jahe dilengkapi dengan akar berumbi yang disebut rimpang atau rhizoma. Bagian tersebut merupakan bagian tanaman jahe yang memiliki beragam manfaat. Manfaat ini bersumber dari kandungan senyawa aktifnya yang kompleks. Jahe sebenarnya dibagi kedalam tiga jenis yakni jahe emprit,
jahe gajah dan jahe merah. Tetapi berdasarkan warna, jahe dibagi ke dalam dua varian yakni jahe merah dan jahe putih (dalam kondisi tertentu, warna putih tersebut agak kekuningan). Di pasaran, jahe putih lebih mudah didapatkan dibandingkan jahe merah. Selain mudah didapatkan, manfaat jahe putih sesungguhnya sangat beragam. Berikut uraiannya.

Kandungan Senyawa Pada Rimpang Jahe
Meski dibedakan dalam beberapa jenis, namun secara umum kandungan senyawa di dalam jahe sama. Berdasarkan penelitian, rimpang jahe mangandung zat aktif seperti phenol, fellandren, minyak damar, sineol, kamfer, vitamin A, B1, C, zingiberin, zingiberol, gigerol, asam amino, zingeron, borneol, lipidas, protein, niacin dan masih banyak lagi lainnya. Semua senyawa penyusun ini memiliki efek yang dikenal baik bagi kesehatan manusia. Karena itu, tidak mengherankan jika jahe dikenal sebagai salah satu komiditi obat herbal yang paling populer terutama di Indonesia.

Manfaat Jahe Putih

Manfaat jahe putih telah terbukti seraca klinis. Efek farmakologisnya telah banyak dirasakan orang-orang. Mengkonsumsi jahe secara teratur akan membantu mereduksi gula darah, membantu menjinakkan kanker, melindungi elastisitas pembuluh darah, menghangatkan tubuh, membantu meredakan radang sendi, menambah nafsu makan dan masih banyak lagi lainnya.
Jahe putih banyak dimanfaatkan di industri kuliner dan obat-obatan. Untuk jahe putih dari jenis jahe gajah, paling banyak digunakan sebagai bahan permen jahe, jely jahe, sirup jahe dan masih banyak lagi lainnya. Jahe gajah memang dikenal memiliki aroma yang sangat kuat dan tidak memiliki sensasi panas yang menyengat. Sementara itu, jahe putih dari jenis emprit lebih banyak digunakan di industri obat-obatan. Aromanya kurang kuat tetapi sensasi panasnya jauh lebih tinggi dibanding jahe gajah. Mencermati manfaat jahe putih, tak ada salahnya memasukkannnya dalam konsumsi harian Anda. Baik itu pada bumbu masakan atau dikonsumsi dalam bentuk obat. Salam sehat!

manfaat Jahe Merah
  1. Manfaat Jahe Putih
  2. fungsi jahe merah
  3. khasiat jahe merah
  4. manfaat Jahe Merah

Kiat Menyimpan Bibit Jahe

Kiat Menyimpan Bibit Jahe. (Zingiher officinal) tidak terlepas dari bibit jahe yang ditanam.Dengan demikian,tanaman sudah dirawat baik,tetapi jika bibit yang ditanam kualitasnya jelek,maka hasil yang diperolehnya akan kurang memuaskan.Namun,masalah bibit ini seringkali diabaikan oleh para petani,dan mereka masih sering menggunakan bibit jahe yang berkualitas jelek.
Dalam hal ini,misalnya menggunakan bibit yang belum cukup tua,mengandunghama maupun penyakit.Nah,supaya jahe yang ditanam hasilnya memuaskan,selain tanaman harus dirawat dengan baik dan ditanam pada tempat yang cocok,juga bibitnya harus baik pula.

Syarat rimpang jahe yang baik untuk ditanam,rimpang jahe berasal dari tanaman berumur sekitar 9-10 bulan,yang ditandai oleh tajuk batangnya yang mulai mongering. Kemudian kulit rimpangnya licin dan keras ,tidak mudah mengelupas, warna mengkilap dan menampakkan tanda bernas serta kandungan serat rimpangnya tinggi dan kasar.Selain itu, rimpangnya terbebas dari hama penyakit. Rimpang jahe yang terserang penyakit,yakni warna kulitnya tidak cerah,berkerut dan lembek,juga daging rimpang berair dan warnanya kusam kecokelatan atau ada bagian yang membusuk.Sedangkan rimpang jahe yang terkena hama terdapat lubang-lubang kecil yang merupakan tanda bahwa rmpang jahe tersebut diserang hama lalat rimpang.
Bibit yang sudah menunjukkan adanya gejala serangan hama-penyakit,maka sebaiknya jangan ditanam,karena hasilnya akan mengecewakan.Adapun rimpang jahe (bibit) yang baik untuk ditanam sedikitnya mempunyai 2 mata tunas,beratnya sekitar 20-40 gram untuk bibit jahe emprit (jahe kecil),dan untuk bibit jahe besar (jahe gajah) sekitar 25-60 gram.Hal penting perlu diperhatikan,yakni untuk menghindari penggunaan bibit dari kebun yang terserang penyakit bakteri Pseudomonas solanacearum atau cendawanRhizoctonia solani maupun hama lalat rimpangMimegralla coeruleifrons dan Enmerus figurans.

Persoalannya,bibit yang terserang hama penyakit tersebut jika ditanam akan terbawa masuk ke lahan penanaman dan tanaman yang tumbuh nantinya juga tidak baik,yang akhirnya hasil panen yang diperoleh tidak akan memuaskan,bahkan bisa mengalami gagal panen.Karena itu,bibit jahe yang akan ditanam harus jelas asal-usulnya.


Apabila para petani mengalami kesulitan untuk memperoleh bibit jahe yang baik untuk ditanam,maka kita pun dapat mempersiapkan bibit sendiri.


Caranya,jika bibit jahe yang dibutuhkan hanya sedikit,rimpang yang sudah dipilih dihamparkan di tempat terbuka tetapi tidak terkena sinar matahari secara langsung.Dengan cara ini,kulit rimpang jahe saja yang kering,sedangkan daging rimpang tetap segar.


Jika bibit jahe yang dibutuhkan dalam jumlah banyak,sebaiknya menggunakan rak bambu,rak kayu atau peti kayu yang tidak rapat.Juga bisa menggunakan keranjang bambu atau dalam karung yang bagian atasnya tetap terbuka dan tidak diisi penuh.Sementara ruang penyimpanannya harus mempunyai sirkulasi udara yang baik,cukup cahaya,tidak lembab dan tidak bocor.

Setelah kulit rimpang kering kemudian ditaburi abu dapur untuk menghin dari tumbuhnya jamur pada rimpang tersebut.Sebaiknya,rimpang jahe untuk bibit ini berasal dari pertatanaman khusus untuk bibit.Cara ini selain bisa diperoleh bibit yang terjamin mutunya juga lebih menjamin kontiunitas tersedianya bibit yang dibutuhkan.Dengan cara penyimpanan yang baik,maka diharapkan akan memperoleh bibit jahe yang baik pula,dan hasil panennya akan memuaskan

ARTIKEL BERKAITAN

Metode Pembuatan Minyak Jahe

Minyak Jahe
Metode Pembuatan Minyak Jahe. Jahe merupakan salah satu tanaman obat dengan beragam khasiat. Tumbuhan yang digolongkan ke dalam suku temu-temuan ini memang mengandung banyak senyawa aktif yang baik bagi kesehatan. Salah satu senyawa aktif tersebut adalah minyak atsiri. Minyak ini merupakan senywa ayang sangat mudah menguap dan istimewanya tidak larut di dalam air. Aroma khas jahe sesungguhnya berasal dari minyak atsiri ini.
Mencermati hal tersebut, kini banyak orang yang mengolah jahe untuk diambil bagian minyaknya. Minyak ini bisanya digunakan sebagai aroma terapi sebab ampuh untuk memberi efek relaksasi. Minyak jahe ini diperoleh dengan cara destilasi. Tertarik mencoba? Berikut proses pembuatan minyak jahe.
Metode Penyulingan

Untuk mendapatkan minyak jahe, langkah yang dilakukan tentu dengan penyulingan atau destilasi. Teknik penyulingan ini bisa dilakukan mellaui tiga cara yakni metode perebusan, pengukusan, dan uap langsung. Metode perebusan dilakukan dengan cara merebus bahan di dalam air mendidih. Proses perebusan tersebut akan membuat minyak atsiri jahe menguap bersama air. Langkah selanjutnya dengan melewatkan uap di kondesor untuk proses kondensasi. Alat yang digunakan adalah suling perebus.

Jika menggunakan metode pengukusan, bahan dikukus di dalam ketel khusus yang bentuknya hampir mirip dengan dandang biasa.  Proses kukus ini juga akan menghasilkan uap dimana air dan minyak telah becampur.

Kemudian uap ini dialirkan ke kondesor untuk proses kondensasi. Sama dengan metode perebusan, alat yang digunakan untuk menyuling minyak pada uap adalah suling, tetapi khusus untuk pengukus. Metode pengukusan ini adalah teknik pembuatan minyak jahe yang paling banyak dilakukan oleh petani minyak jahe skala kecil. Hasilnya cukup baik dan prosesnya pun sangat efisien.

Metode terakhir adalah Uap Langsung. Metode ini dimulai dengan mengalirkan uap ke bahan. Uap tersebut berasal dari ketel pembangkit uap. Selanjutnya, uap tersebut akan membawa minyak atsiri dari bahan/jahe ke kondesor. Suling yang digunakan pada metode ini dinamakan suling uap langsung. Metode ini paling banyak digunakan oleh produsen minyak jahe skala besar.

Teknik Pengukusan

Jika Anda tertarik untuk menggeluti produksi minyak jahe skala kecil, berikut langkah pembuatan yang bisa Anda lakukan. Langkah pertama tentu adalah menyiapkan bahan. Adapun bahan yang dibutuhkan adalah:
  • Rimpang jahe. Pilihlah yang memiliki kualitas unggul. Agar produksi lebih banyak, gunakan rimpang jahe merah sebab mengandung minyak atsiri yang lebih banyak dibandingkan jenis lainnya.
  • Kertas saring dengan lapisan magnesium karbonat.
Sementara itu, peralatan yang digunakan adalah :
  • Alat suling pengukus. Alat ini terdiri atas ketel suling, penampung hasil dan pengembun uap atau biasa disebut kondesor.
  • Botol berwarna gelap atau jerigen berkualitas tinggi.

Cara Pembuatan Minyak Atsiri:
Pertama cuci rimpang jahe. Setelah itu potong-potong dalam ukuran kecil atau dirajang dengan ketebalan 2 hingga 4 milimeter. Jauh lebih baik lagi jika jahe dimemarkan sampai gepeng. Tidak perlu mengupas kulit jage karena akan mengurangi hasil produksi minyak jahe. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan alat suling.

Pertama bersihkan alat penyulingan. Selanjutnya isi dengan air bersih sampai mencapai ketinggian 3 sampai 5 cm dari dasar alat penyulingan. Sebaiknya gunakan air hujan sebab tidak akan meninggalkan lapisan kerak pada alat penyulingan Anda.

Selanjutnya, masukkan jahe ke dalam ketel. Pastikan susunannya teratur dan menyisakan rongga untuk jalur uap. Setelah tersusun baik, ketel dipanaskan. Usahakan agar api tidak terlalu besar dan menyentuh dinding ketel. Sebab akan membuat bahan gosong.
Jika proses dilakukan secara benar, uap akan menuju bagian ketel yakni penampung hasil. Biasanya minyak yang dihasilkan berwarna kuning kecoklatan. Jika minyak masih mengandung air, pakailah kertas magnesium karbonat untuk memisahkan secara sempurna air dan minyak. Terakhir adalah langkah pengemasan. Minyak jahe mudah menguap jadi gunakan botol atau jerigen dengan penutup rapat.

Saturday, October 20, 2012

Memilih Bibit Jahe Berkualitas

Memilih Bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas hama dan penyakit. Oleh karena itu kriteria yang harus dipenuhi antara lain:
  • Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar).
  • Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan).
  • Dipilih pula dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet.

Teknik Penyemaian Bibit Jahe

Untuk pertumbuhan tanaman yang serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.

Penyemaian JAHE pada peti kayu

Rimpang JAHE yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupka n dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit JAHE tersebut sudah disemai.

Penyemaian JAHE pada bedengan

Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton (kebutuhan JAHE gajah seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit berkualitas rendah.

Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.

Penyiapan Bibit 

Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

ARTIKEL BERKAITAN

Budidaya Tanaman Jahe

Budidaya Tanaman Jahe. Jahe (Zingiber officinale) berasal dari Asia Pasifik, merupakan tanaman rumpun berbatang semu yang dimanfaatkan sebagai bahan bumbu masak, minuman, dan obat-obatan tradisional. Tanaman jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae) dan sefamili dengan tanaman kunyit, kencur, temu lawak, dan lengkuas. Tanaman Jahe merupakan salah satu tanaman rempah-rempah yang diperdagangkan di dunia dan mempunyai prospek pemasaran yang cukup baik untuk dikembangkan. Saat ini jahe telah menjadi salah satu
komoditas ekspor dengan harga dan permintaan yang cukup tinggi. Jahe diekspor dalam bentuk jahe segar, jahe kering, jahe segar olahan dam minyak atsiri. Negara-negara tujuan ekspor jahe adalah Amerikan Serikat, Belanda, Uni Emirat Arab, Pakistan, Jepang, dan Hongkong.

A. Jenis-jenis Tanaman Jahe

Berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya, jahe terbagi menjadi 3 varietas, yaitu:
  1. Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum); rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil, dengan diameter 42 s/d 43 mm, tinggi 52 s/d 104 mm, dan panjang 123 s/d 126 mm. Sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri 2,58 s/d 3,9%, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.
  2. Jahe putih/kuning besar (Zingiber officinale var. officinarum) atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak; rimpangnya lebih besar dan gemuk dengan diameter 48 s/d 85 mm, tinggi 62 s/d 113 mm, dan panjang 158 s/d 327 mm. Ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini biasa dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan. Minyak astiri di dalam rimpang 0,82 - 2,8%.
  3. Jahe putih/kuning kecil (Zingiber officinale var. amarum) atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit; ruasnya kecil, diameter 32,7 s/d 40 mm, tinggi 63,8 s/d 111 mm, panjang 61 s/d 317 mm, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah (1,50 s/d 3,5 %), sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.

B. Syarat Tumbuh Tanaman Jahe

B.1. Iklim

  1. Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
  2. Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari dengan intensitas cahaya matahari 70 - 100% atau agak ternaungi sampai terbuka.
  3. Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35 oC.

B.2. Ketinggian Tempat

  1. Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2.000 m dpl.
  2. Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 900 m dpl.

B.3. Media Tanam

  1. Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus.
  2. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik.
  3. Pada lahan dengan kemiringan > 3% dianjurkan untuk dilakukan pembuatan teras, teras bangku sangat dianjurkan bila kemiringan lereng cukup curam. Hal ini untuk menghindari terjadinya pencucian lahan yang mengakibatkan tanah menjadi tidak subur, dan benih jahe hanyut terbawa arus.
  4. Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0.

C. Budidaya Tanaman Jahe

C.1. Pembibitan

C.1.1. Persyaratan Bibit Jahe

Bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yang bebas hama dan penyakit. Oleh karena itu kriteria yang harus dipenuhi antara lain:
  • Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar).
  • Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan).
  • Dipilih pula dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet.

C.1.2. Teknik Penyemaian Bibit Jahe

Untuk pertumbuhan tanaman yang serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan bedengan atau dengan.
a) Penyemaian pada peti kayu
Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit jahe tersebut sudah disemai.
b. Penyemaian pada bedengan
Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit berkualitas rendah.
Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.

C.1.3. Penyiapan Bibit Jahe

Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

D. Pengolahan Tanah

D.1. Pembukaan Lahan

Tanah diolah sedemikian rupa agar gembur dan dibersihkan dari gulma. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara menggarpu dan mencangkul tanah sedalam 30 cm, dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar lapuk. Untuk tanah dengan lapisan olah tipis, pengolahan tanahnya harus hati-hati disesuaikan dengan lapisan tanah tersebut dan jangan dicangkul atau digarpu terlalu dalam sehingga tercampur antara lapisan olah dengan lapisan tanah bawah, hal ini dapat mengakibatkan tanaman kurang subur tumbuhnya. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka dapat dilakukan pengolahan tanah yang kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam dan sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg.

D.2. Pembentukan Bedengan

Pada daerah-daerah yang kondisi air tanahnya jelek dan sekaligus untuk encegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan dengan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.

D.3. Pengapuran

Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, Terutama fosfor (p) dan calcium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp dan pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat diperlukan tanaman untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji. Tanah yang memiliki derajat keasaman < 4 (paling asam) dibutuhkan dolomit minimal sebanyak 10 ton/ha. Sedangkan tanah yang memiliki derajat keasaman 5 (asam) dibutuhkan dolomit 5.5 ton/ha; serta yang memiliki derajat keasaman 6 (agak asam) dibutuhkan dolomit 0.8 ton/ha.

E. Penanaman Jahe

Pada bedengan dibuat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 5 - 7 cm. Bibit jahe ditanam pada lubang-lubang tersebut dengan tunas menghadap ke atas, jangan terbalik, karena dapat menghambat pertumbuhan. Jarak tanam yang digunakan untuk penanaman jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm. Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan.

F. Pemeliharaan Tanaman

F.1. Penyiangan gulma

Penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman jahe berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yang tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.

F.2. Penyulaman

Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1 – 1,5 bulan setelah tanam dengan memakai benih cadangan yang sudah diseleksi dan disemaikan.

F.3. Pembumbunan

Tanaman jahe memerlukan tanah yang peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman jahe masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya dapat diperdalam dan diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan sekaligus terbentuk sistem pengairan yang berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air. Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman jahe. Namun tergantung kepada kondisi tanah dan banyaknya hujan.

F.4. Pengendalian organisme pengganggu tanaman

Pengendalian hama penyakit dilakukan sesuai dengan keperluan. Penyakit utama pada jahe adalah busuk rimpang yang disebabkan oleh serangan bakteri layu (Ralstonia solanacearum). Sampai saat ini belum ada metode pengendalian yang memadai, kecuali dengan menerapkan tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya benih penyakit, seperti penggunaan lahan sehat, penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari perlukaan (penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat (sanitasi), inspeksi kebun secara rutin.
Tanaman yang terserang layu bakteri segera dicabut dan dibakar untuk menghindari meluasnya serangan OPT. Hama yang cukup signifikan adalah lalat rimpang Mimergralla coeruleifrons (Diptera, Micropezidae) dan Eumerus figurans (Diptera, Syrpidae), kutu perisai (Aspidiella hartii) yang menyerang rimpang mulai dari pertanaman dan menyebabkan penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang disebabkanoleh cendawan (Phyllosticta sp.). Serangan penyakit ini apabila terjadi pada tanaman muda (sebelum 6 bulan) akan menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan. Tindakan mencegah perluasan penyakit ini dengan menyemprotkan fungisida segera setelah terlihat ada serangan (diulang setiap minggu sekali), sanitasi tanaman sakit, inspeksi secara rutin.

F.5. Pemupukan

Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman jahe perlu diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yang berumur 4 bulan. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman.

G. Panen

Pemanenan dilakukan tergantung dari penggunaan jahe itu sendiri. Bila kebutuhan untuk bumbu penyedap masakan, maka tanaman jahe sudah bisa ditanam pada umur kurang lebih 4 bulan dengan cara mematahkan sebagian rimpang dan sisanya dibiarkan sampai tua. Apabila jahe untuk dipasarkan maka jahe dipanen setelah cukup tua. Umur tanaman jahe yang sudah bisa dipanen antara 10-12 bulan, dengan ciri-ciri warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering. Misal tanaman jahe gajah akan mengering pada umur 8 bulan dan akan berlangsung selama 15 hari atau lebih.
Pemanenan jahe dilakukan dengan cara tanah dibongkar dengan hati-hati menggunakan alat garpu atau cangkul, diusahakan jangan sampai rimpang jahe terluka. Selanjutnya tanah dan kotoran lainnya yang menempel pada rimpang dibersihkan dan bila perlu dicuci. Sesudah itu jahe dijemur di atas papan atau daun pisang kira-kira selama 1 minggu. Tempat penyimpanan harus terbuka, tidak lembab dan penumpukannya jangan terlalu tinggi melainkan agak disebar.
Waktu panen sebaiknya dilakukan sebelum musim hujan. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya.
Dengan menggunakan varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dihasilkan rata-rata 27 ton rimpang segar per ha, calon varietas unggul jahe putih kecil (JPK 3; JPK 6) dengan cara budidaya yang direkomendasikan, dihasilkan rata-rata 16 ton/ha rimpang segar dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah 22 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.

H. Pascapanen

H.1. Penyortiran Basah dan Pencucian

Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.

H.2. Perajangan

Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi bahan yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.

H.3. Pengeringan

Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50oC - 60oC. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan.

H.4. Penyortiran Kering

Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).

H.5. Pengemasan

Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.

H.6. Penyimpanan

Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30oC dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.
ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free

Jenis Tanaman Jahe

Jenis Tanaman Jahe
Jenis Tanaman Jahe,  Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :

1) Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.


2) Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk
diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.

3) Jahe merah. Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil.
sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.

ARTIKEL BERKAITAN

  1. Jenis Tanaman Jahe
  2. Komposisi Kandungan Jahe
  3. Peluang Usaha Budidaya Jahe Gajah
  4. mengenal tanaman jahe
ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free

mengenal tanaman jahe

mengenal tanaman jahe
Mengenal tanaman jahe. Berikut ini adalah identifikasi tanaman jahe, menyangkut bahasa ilmiah, wilayah tumbuh, uraian tumbuhan, kandungan kimia, kandungan manfaat, dan macam-macam kegunaan lainnya.

Latin :
Zingiber officinale Rosc.
Z.o. var. amarun (pahit)
Z.o. var. rubrum (merah)


Indonesia :
Jahe pahit (Z.o. var. amarun)
HaIia padi (rasanya amat tajam)
Sunti (Z.o. var. rubrum)
Halia barah atau H. udang (merah)
Jae / Jhai
Bahing / Pemedas / Sipadeh

English : Ginger

Familia : Zingiberaceae

Wilayah :
Tumbuhan ini berasal dari Asia Selatan (India)dan RRC, kini ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, contohnya di Indonesia. Tanaman jahe biasanya ditanam di daerah beriklim panas, terutama di tanah gembur, kering dan subur. Jahe yang amat baik dihasilkan di Jamaika. Sri Langka dan Cina. Tanaman jahe bisa dipanen apabila daunnya telah menguning.

Uraian Tumbuhan :
Zingiber officinale merupakan tumbuhan herba menahun yang tumbuh liar di ladang-ladang berkadar tanah lembab dan memperoleh banyak sinar matahari. Batangnya tegak, berakar serabut dan berumbi dengan rimpang mendatar. Tumbuhan semak berbatang semu ini tingginya bisa mencapai 30 cm – 1 m. Rimpang jehe berkulit agak tebal membungkus daging umbi yang berserat dan berwarna coklat beraroma khas. Bentuk daun bulat panjang dan tidak lebar. Berdaun tunggal, berbentuk lanset dengan panjang antara 15 – 28 mm. Bunganya memiliki 2 kelamin dengan 1 benang sari dan 3 putik bunga. Bunga ini muncul pada ketiak daun dengan posisi duduk. Biasanya jahe di tanam pada dataran rendah sampai dataran tinggi (daerah subtropis & tropis) di ketinggian 1500 m di atas permukaan laut. Akarnya akar serabut.

Kandungan Kimia :
Rimpang jahe mengandung minyak atsiri, damar, mineral sineol, fellandren, kamfer, borneol, zingiberin, zingiberol, gigerol ( misalnya di bagian-bagian merah), zingeron, lipidas, asam aminos, niacin, vitamin A, B1, C dan protein. Minyak jahe berwarna kuning dan kental. Minyak ini kebanyakan mengandung terpen, fellandren, dextrokamfen, bahan sesquiterpen yang dinamakan zingiberen, zingeron damar, pati.

Kandungan & Manfaat :
Menurut Farmakope Belanda, Zingiber Rhizoma (Rhizoma Zingiberis- akar jahe) yang berupa umbi Zingerber officinale mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering dipakai sebagai rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak dipakai di dunia. Di negara Malaysia, Filipina dan Indonesia telah banyak ditemukan manfaat therapeutis. Sejak dulu Jahe dipergunakan sebagai obat, atau bumbu dapur dan aneka keperluan Iainnya. Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan pencernaan. Jahe berguna sebagai obat gosok untuk penyakit encok dan sakit kepala. Jahe segar yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai obat luar untuk sebagai obat mulas. Rasa dan aromanya pedas dapat menghangatkan tubuh dan mengeluarkan keringat. Minyak atsirinya bermanfaat untuk menghilangkan nyeri, anti inflamasi dan anti bakteri. Air perasan umbinya (akar tongkat) digunakan untuk penyakit katarak. Pada umumnya jahe dipakai sebagai pencampur beberapa jenis obat yaitu sebagai obat batuk, rnengobati Iuka luar dan dalam ,melawan gatal (umbinya ditumbuk haIus) dan untuk mengobati gigitan ular.

Kegunaan lain :

* Sakit kepala / migrain
* Batuk
* Masuk Angin
* Rematik, nyeri pinggang, nyeri punggung
* Mengeluarkan gas dari perut
* Bengkak-bengkak (rimpangnya)
* Mual, mabuk di perjalanan
* Eksem
* Panu
* Terkilir
* Vitiligo (bercak putih karefla kehilangan pigmen)
* Borok
* Digigit ular
* Gatal karena gigitan serangga
* Penyakit cacing gelang

Sumber:Internet.

Sumber : http://kolom-inspirasi.blogspot.com/2011/04/identifikasi-tanaman-jahe.html

 ARTIKEL BERKAITAN
  1. Jenis Tanaman Jahe
  2. Komposisi Kandungan Jahe
  3. Peluang Usaha Budidaya Jahe Gajah
  4. mengenal tanaman jahe
ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free